Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Bila Al Quran Bisa Bicara



Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya,

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....

Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

Sentuhilah aku kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos...
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Apa Gunanya Menyalahkan?



"Memaafkan memang tidak mengubah apa yang telah terjadi. Namun benar-benar memperbaiki apa yang akan datang."
Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White. Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka. Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku- orang luar-seperti sepupu jauh.

Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting. "Siapa yang melakukan ini?" ibuku membentak melihat dapur berantakan. "lni semua salahmu, Katharine," ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah atau mesin cuci piring rusak. Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku saling mengadu. Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan. Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa. Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka. lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal.

Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan. Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.a Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Florida ke New York . Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas tahun. Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu. Dengan tawanya yang lucu, ia memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi. Di suatu tempat di South Carolina , kami keluar dari jalan tol untuk makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau tidak memperhatikan atau tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami. Jane langsung meninggal.

Aku selamat hanya dengan sedikit memar. Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal. Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak. Saat suami-istri White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar. Kepala dibalut perban; kaki Amy digips. Mereka memeluk kami semua dan menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka. Mereka menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia belajar menggunakan kruknya. Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy, berulang-ulang mereka hanya berkata, "Kami gembira kalian masih hidup." Aku tercengang. Tak ada tuduhan. Tak ada tudingan.

Kemudian, aku menanyakan Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Bu White berkata, "Jane sudah tiada, dan kami sangat merindukannya. Tak ada yang dapat kami katakan atau perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang. Bagaimana ia bisa menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami menyalahkannya atas kematian kakaknya?"

Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu. Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa. Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua bernama Jane. Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya tidak penting. Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali. 

Minggu, 10 Juni 2012

Apa Tujuan dan Tugas Hidup Kita Sebenarnya?

Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas2 hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?

"Apa tujuan hidup kita?" "Mengapa kita diciptakan di bumi oleh Allah?"
Kawan, pertayaan-pertanyaan seperti ini sangat perlu kita tanyakan. Apa jawaban kalian? jika untuk kaya, apakah kekayaan akan membuat kita bahagia?.
Jika hidup kita untuk tersenyum, makan, mandi, untuk berkasih sayang, untuk menangis, untuk mempunyai anak dan untuk mati, coba kalian pikir lagi? apa bedanya dengan hewan seperti domba, sapi, babi, dsb. Mereka diternakkan, mereka hidupnya hanya untuk, makan, minum, tidur, lalu mati. Jika hidup kita untuk tersenyum, makan, mandi, untuk berkasih sayang, untuk menangis, untuk mempunyai anak dan untuk mati, coba lihat pertanyaan kedua, "LALU KALAU BEGITU? KENAPA ALLAH SWT. MENCIPTAKAN MANUSIA?" berfikirlah, percuma Allah menciptakan manusia kalau cuma buat tersenyum, berkasih sayang dan untuk mati. Jika untuk berbahagia, berbahagia seperti apa yang kalian inginkan? Berbahagia yang fana (sementara) atau yang kekal abadi? Kalian pasti ingin yang berbahadia abadi. lalu bagaimana caranya agar bisa berbahagia abadi itu?

Tujuan hidup kita adalah beribadah lihat surat Az-Zariyat ayat 56 "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" Tujuan hidup kita ialah Beribadah, Berdakwah, menegakkan khilafah di atas dunia.

Jika kalian bertanya, "Beribadah? masa Sholat terus *bla..blaa*"
Ibadah, ibadah itu bukan syahadat, sholat, zakat, puasa, naik haji saja looh. Tersenyum juga beribadah, Tidur juga ibadah, Belajar? itu termasuk ibadah juga. Ibadah ialah kegiatan yang dilakukan atas nama Allah dan berdasarkan syariat islam. Beribadah ialah mengabdi, bekerja sungguh untuk Allah

Kebahagian.. Kebahagian abadi adalah disaat kita berbahagia di akhirat, itu yg terpenting! kita berbahagia di zaman yang abadi. Caranya? ya balik lagi ke tujuan hidup sebenarnya.
_________

Semua pertanyaan kita, semua tentang peraturan2, kiat2 agar kita hidup makmur semua ada pada Alquran, Belajar Alquran lalu mengimaninya.
Perlu anda ketahui? Orang-orang islam sekarang hampir tidak pernah memegang alquran sedikit pun, alquran hanya dijadikan sebagai pajangan. Kita hanya sibuk dengan kehidupan dunia bukan akhirat, padahal jika kita mengejar duni akhirat tidak akan ikut, tetapi bila kita mengejar AKHIRAT dunia akan turut serta. Sadarkah kalian? Remaja-remaja islam sekarang banyak yg mengkuti aliran luar negeri, sedangkan luar negeri tersendiri mempelajari ilmu2 yang ada di Alquran. Generasi tua di "luar negeri" sudah mengajarkan ilmu2 yang ada di Alquran meskipun mereka tidak mengimaninya. Mereka mengajarkan anak2nya untuk menjatuhkan islam. Sadarkah kalian? sekarng ini kita sedang dijajah, kita diperangi perang pikiran, dari hal yg kita lihat di TV, makanan, pakaian, dsb.


Kesimpulan:
Tujuan hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sesuai dengan difenisi oleh ayat2 ALLAH tersebut dibawah ini;
1.QS.56″51.“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah(bekerja) kepada-Ku”
Tugas hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sebagi berikut dibawah ini:
2.(QS.11:61). “Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia).
3.(QS..57:25).”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya ALLAH mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul2 padahal Allah tidak dilihatnya.
4.”.(QS.58:11)“ALLAH akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
5.QS.2:30″Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini”
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)
.
Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan dan tugas hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia.

Then, sudah tahu arti hidup dan tugas kita disini? :) semoga bermanfaat dan tergugah hatinya . dan kita tidak tenggelam dalam urusan duniawi yang sementara.

Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam (Bag 3-habis)


Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam (Bag 3-habis)
Abdul Raheem Green


 Sempat ia hampir menerima kenyataan bahwa tujuan dalam hidup ini hanyalah mencari uang dan menumpuk kekayaan. Masalahnya, Green bukanlah kaya dan dia belum cukup kaya untuk mencapai ‘tujuan hidup’ yang ia maksud. Ia harus banyak belajar dari orang-orang yang bisa menghasilkan banyak uang.

Ia mengetahui orang Arab sangatlah kaya karena minyak yang dihasilkannya. “Mereka tinggal mengatakan Allahuakbar, lalu uang muncul di depan mereka. Semudah itu,” kata dia.

Terpikir pula olehnya agama yang dianut orang-orang Arab, yakni Islam. Agama ini belum pernah disentuh Green sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya Green mempelajari terlebih dahulu agama yang berasal dari Timur Tengah ini, sebelum ia memutuskan untuk menjadi kaya.

Green membeli sebuah terjemahan Alquran di toko buku dan membacanya. Green membacanya berkali-kali dan menemukan ada yang tidak biasa dalam buku tersebut. Green merasa buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang. Dari situ Green mulai mempelajari tentang Islam. 

Perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjawab semua pertanyaannya. Islam memberinya pedoman dalam kehidupan dan memberikan cahaya pada setiap jalan yang ia tempuh.

Islam juga menjawab pertanyaan Green mengenai Tuhan. Tuhan adalah satu dan ia tidak memiliki ibu juga tidak mati. Tuhan adalah pencipta seluruh alam dan melalui para nabi Tuhan menyampaikan apa yang perlu manusia lakukan di dunia dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. 

“Saya menyadari buku ini berasal dari Tuhan. Dia telah memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama ini.” Ia juga menemukan jawaban atas tujuan hidup di dunia ini, yakni untuk beribadah dan menyembang Sang Khalik, demi mendapat kehidupan yang abadi di Hari Akhir.

Kini, Green berkhidmat dalam Islam. Ia mempelajari Islam dan menyebarkannya. Dakwah adalah jalan hidupnya. 


sumber : Republika

Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam (Bag 2)

Ketika usianya semakin beranjak dewasa, pertanyaan lain muncul dalam hidupnya. ‘’Apakah yang menjadi tujuan dalam hidup ini? Apakah hidup itu hanya seperti memiliki pekerjaan bagus, hidup yang normal dan indah serta uang yang banyak? Apakah kehidupan itu seperti itu? Lalu bagaimana dengan kematian?’’

Ia amat yakin sekali bahwa kehidupan yang dijalaninya tak semata untuk mengumpulkan uang, memiliki keluarga, dan menjalani kehidupan monoton sepertu yang banyak dilakukan orang sekarang. Green meyakini ada sesuatu yang lebih dari itu.

Karena tidak menemukan jawabannya dalam Katolik yang dianutnya sejak lahir, Green mencoba mencarinya dalam agama Buddha. Ia mencari tentang kehidupan di agama Shidarta Gautama itu.

Green mempelajari banyak hal dalam Buddha. Meskipun banyak orang  menganggap Buddha bukanlah sebuah agama, ia menemukan banyak nilai-nilai positif di dalamnya. Akan tetapi ia tidak menemukan adanya Tuhan dalam agama tersebut. “Meski begitu, saya tetap mempercayai adanya Tuhan, karena saya tahu Dia ada,” kata Green.

Buddha mengajarkan bahwa hidup itu adalah penderitaan. Manusia harus mencari jalan keluar sendiri untuk melepaskan diri dari penderitaan dan mencapai nirwana. Green merasa hal ini tidaklah sesuai dengan hatinya. Memang, ia menemukan banyak ajaran-ajaran baik dalam Buddha. 

Tapi kalau hidup yang penuh penderitaan? Green harus berpikir ulang. Ajaran Buddha tidak lagi membuat perasaannya tenang dan Green tidak menemukan jawaban dari pertanyaan fundamentalnya: ‘’Mengapa manusia ada di bumi?’’

Tak puas dengan apa yang ia dapatkan di ajaran agama lain, Green sempat memutuskan untuk membuat agamanya sendiri. Ia mengombinasikan agama-agama dan filosofi yang ia pelajari selama ini menjadi satu dan membuatnya menjadi ‘agama Green’. 

“Dan masa-masa itu menjadi pengalaman spiritual terburuk dalam hidup saya,” kenangnya.

Karena tidak menemukan kebenaran juga, Green mulai berpikir mungkin memang tidak ada agama yang benar di dunia ini. Mungkin semuanya memang seperti ini adanya dan ia harus menerima itu. Barangkali di dunia ini tidak ada jawaban yang dapat membuatnya paham mengenai apa yang harus manusia lakukan di dunia dan apa tujuan manusia dilahirkan. 

Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam (Bag 1)

‘’Apa tujuan hidup di dunia ini?’’

Pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hati Abdul Raheem Green itu telah mengantarkannya pada sebuah pencarian spiritual. Bagi sebagian orang, manusia hidup untuk menjadi kaya. Namun, Green tahu itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.

‘’Benarkah menjadi kaya akan membuat seorang bahagia?’’ tanyanya dalam hati. 

Ternyata kekayaan tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang kaya di dunia ini, tapi mereka tak merasakan kebahagiaan.  Tak mudah bagi Green untuk menemukan jawaban tentang tujuan hidup di dunia ini.

Ia mencari jawaban atas pertanyaannya melalui jalur spiritual. Ia sempat berganti-ganti agama untuk mendapatkan jawabannya. Namun, beberapa agama yang sempat disinggahinya tak mampu memberikan jawaban. Di akhir pencariaannya, ia berkenalan dengan Islam. 

Hati Green pun terpikat kepada Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu mampu memberinya jawaban atas pertanyaan yang selalu mengusik kehidupannya. Lantas  bagaimanakah Islam menjawab pertanyaan seorang pria bernama Green?

Green terlahir dalam sebuah keluarga yang menganut Katholik Roma. Keluarganya sangat patuh terhadap ajaran agama. Ayahnya seorang tentara dan ibunya adalah seorang polisi di salah satu kota di Inggris.

Kedua orangtuanya bersepakat untuk membesarkan buah hatinya dengan agama nilai-nilai agama. Mereka memasukkan Green ke sekolah asrama Katholik. Sekolah asrama itu cukup terkenal di Inggris. Green pun cukup senang belajar di sekolah tersebut.

Selain menimba pelajaran umum, Green dan murid-murid lainnya harus mengikuti pelajaran, agama seperti membaca Alkitab dan sejarah-sejarah Kristen. Awalnya, tidak ada masalah yang berarti bagi Green ketika belajar di sekolah asrama Katholik itu. Semua mulai berubah, ketika ia berpikir tentang Tuhannya, Yesus. 

Green berpendapat sosok Tuhan tidak mungkin bisa mati. Ia juga berpikir bagaimana mungkin seorang Tuhan memiliki seorang ibu. “Kalau Tuhan memiliki ibu, maka ibunya adalah Tuhan dari Tuhan,” pikirnya. Hal ini mengganjal terus hingga ia dewasa.

Ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Lalu, Green berusaha mencari tahu mengapa Tuhan memiliki seorang ibu. Akan tetapi,  ia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Orang-orang yang ia tanya tidak dapat menjawabnya. 

Mereka hanya meminta Green untuk mempercayai dan mendengarkan apa yang diajarkan padanya.  Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Green tidak mau menyerah. ‘’Apabila orang lain tidak dapat menjawabnya, maka aku akan mencari sendiri jawabannya,’’ ujar Green.
*besambung*
sumber : Republika

Sabtu, 09 Juni 2012

BANGKIT !!!


Ada sejuta alasan untuk menyerah. Ada
seribu alasan untuk akhiri hidup. Ada jutaan sebab untuk kehilangan
harapan.

Tetapi…

Ada milyaran alasan untuk bertahan. Ada
berjuta alasan untuk hidup. Ada trilyunan alasan untuk terus berharap
dan berjuang.


Saya tau itu. Jika tumpukan batu saja
berhasil disingkirkan, maka apalah artinya sebongkah kerikil yang
hanya sedikit malukai jari kaki.


Jika pernah tersesat jalan, jangan
pernah menyerah, sebab selalu ada cahaya yang akan membimbing dalam
kegelapan. Selalu ada tongkat yang menuntun dalam kebutaan. Selalu
ada senyum yang menyibak kedukaan.

Hidup terlalu indah untuk ditangisi.
Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Dan hidup terlalu sebentar
untuk diakhiri dengan harakiri.


Berhentilah menangis, sudahilah ratapan
dan isakan. Sudah cukup. Keep fight and never give up!
Don’t try to live so wise
Don’t cry ‘couse you’re so right
Don’t dry with fakes or fears

Jumat, 08 Juni 2012

Aku Tembok yang berkeluh kesah


Jder!! Brug!!

Hei! Apa yang kau lakukan? Lagi-lagi, tinjumu menghantamku. Kamu kesal sama siapa sih?
Lihat sekarang! Mulutmu menceracau, memaki diri sendiri. Kau berbaring tak berniat untuk tidur, padahal matamu sembab setelah cukup lama menangis. Eh, tapi aku senang juga, akhirnya kau bisa menangis, setelah sekian lama menahannya. Sudah lama sekali aku tak melihatmu menangis. Atau jangan-jangan selama ini kamu menangis di belakangku?

Ada apa gadis? Adakah sesuatu yang melukai hatimu teramat sangat? Rasanya baru kemarin kau bilang bahwa kau tidak akan pernah menyerah. Bahwa kau tidak akan kalah, dan tidak akan mengalah. Rasanya baru kemarin kau bilang bahwa kau gadis yang tabah. Dan aku mempercayaimu gadis…

Kalau aku boleh mengeluh, rasanya aku rindu pada gadis manis yang menghuni kotak putihku. Gadis cerdas yang kreatif, yang selalu berhasil mengembalikan senyumnya, semuram apa pun dia sebelumnya. Ke mana dia sekarang? Mengapa tubuhnya sekarang dihuni gadis murung yang matanya selalu sendu?

Ah, andai saja aku bisa menghiburmu, memberimu sedikit tausiyah yang mungkin bisa melembutkan hatimu, memompa kembali semangatmu. Tetapi yang kulakukan hanya diam membisu, dan pasrah membiarkanmu menatap diri sendiri dengan muram.

Dalam anganku, aku mengulurkan tangan padamu, menyapamu, dan membelai kepalamu dengan lembut, menjadi ibumu. Mengusap air matamu yang masih tumpah ruah, memelukmu, memberimu kehangatan.
Aku berdoa pada-Nya, agar Ia membisikkan kepadamu, bahwa di luar sana, banyak air mata yang telah membanjir, menganak sungai dan menjadi lautan. Matahari di senyummu, akan menjadi matahari di banyak hati yang duka karena beratnya teguran Allah yang menimpa. Kejora di matamu, akan cemerlang di mata sendu yang nyaris putus asa sebab kehilangan segala hal yang berharga.

Aku yakin kau tahu, dan aku hanya berharap, bahwa kau kembali menemukan dirimu seutuhnya, tidak terkatung-katung merana seolah tanpa jiwa. Tetapi apalah dayaku? Aku hanyalah tembok yang membisu.

***

Aku Gadis, telah mendengar bisikan tembok. Terima kasih tembok, karena telah mendengarkan keluh kesahku, tanpa menghakimi bahwa aku benar atau salah. Aku akan tersenyum, untukmu…. Terima kasih telah menjadi sahabatku. Besok aku ngadu lagi yaa… sama kamu….

(sumber: http://izti-bidadaribiru.blogspot.com/ ) 

Kamis, 07 Juni 2012

Ketulusan Keikhlasan Memaafkan dan Ketangguhan



Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN
Ketika hatimu sedang terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang MEMAAFKAN
Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN